Perang Eksistensi

Posted on Updated on

saya mau bicara tentang realita di kehidupan mahasiswa. Ternyata saya sedang berada pada masa peralihan dan menuju kearah kematangan berfikir dan bertindak. saya lebih suka menyebut perang eksistensi. Orang-orang yang seumuran dengan saya berusaha menampilkan eksistensinya yang masing-masing unik dan berbeda. apakah ini salah? jelas tidak. Saya lebih menilai hal ini suatu kewajaran yang memang harus saya alami.

Persona setiap orang untuk menampilkan eksistensi akan menghasilkan sesuatu yang sia-sia. persona disini adalah topeng, topeng yang bagi para psikolog ditafsirkan sebagai lawan dari sifat yang sebenarnya. seperti halnya dalam drama sang aktor/artis dituntut untuk memerankan karakter yang boleh jadi tidak sesuai dengan karakter asli atau mungkin malah bertolak belakang. Oleh karena ada tuntutan skenario film maka artis/aktor itu pun berperan sesuai arahan. Jika dianalogikan seperti itu mungkin anda akan mudah mencernanya. sengaja saya tidak ingin menyajikan definisi dari para ahli tentang persona kepada anda karena saya fikir anda bisa melakukannya sendiri dan bahkan bisa lebih dalam mencari artinya. Kembali ke topik pembicaraan, eksistensi yang dibangun hanya mengandalkan kekuatan persona saja akan terasa berat dan eksistensi dia akan bertahan untuk sementara.

Eksistensi yang dibangun oleh karakter asli lebih kuat dan lebih bisa diterima. walaupun akan membutuhkan waktu yang relatif lama eksistensi yang didasarkan karen kekuatan jati diri/identitas diri yang sejatinya bersifat khas itu akan bisa lebih mempunyai daya pengaruh yang besar dan relatif bertahan lama. Hal ini sama saja seperti pembuatan film dengan mencocokan karakter asli pemeran dengan karakter yang dimainkannya itu. Disini kualitas perannya akan bagus namun sutradara akan lama untuk memilih aktor yang tepat bersesuaian antara karakter yang dituntut dengan karakter aslinya.

Eksistensi apakah yang dibangun secara ideal ?
saya sangat yakin setiap manusia termasuk mahasiswa punya kecenderungan karakter mereka masing-masing. Ada yang menurut mereka lebih nyaman menyendiri bahkan ada yang tidak bisa meninggalkan kelompoknya dan ingin terus bersama kelompok. Itulah perbedaan bukan? ya itu adalah kodrat, tapi ada kodrat lain yang dapat menyempurnakan kondisi tersebut agar mereka bisa berjalan bersama. yaitu kodrat bahwa manusia itu akan bisa karena belajar. belajar menyesuaikan diri, belajar memahami perbedaan, belajar menghormati orang yang sangat berlainan karakternya.
Kadang persona itu perlu digunakan untuk mempertahankan harga diri, tapi persona yang berlebihan akan tidak baik. adapun tujuan dari kita menggunakan persona secara sementara tujuannya agar karakter yang khas dari diri kita itu bisa keluar dan ini bisa dilakukan oleh semua insan yang ingin belajar.
dengan kata lain eksistensi yang dibangun secara ideal yakni dengan cara pembangunan karakter yang bisa jadi membutuhkan persona yang tepat agar diri ini mendapar kepercayaan dari lingkungan sehingga sedikit demi sedikit karaktermu akan keluar dan akan mewarnai kehidupan dengan lebih berwarna. trimsss

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s