Transformasi dari “SISWA” menjadi “MAHASISWA”

Oleh : Asep Ridwan Lubis
“Mahasiswa-Universitas Pendidikan Indonesia”

                Istilah siswa tidak lain menunjuk pada anak bangsa yang mengemban kewajibannya untuk belajar. Pada umumnya, sring dikaitkan dengan bangku formal persekolahan baik di negeri ataupun swasta (yayasan). Kata siswa menjadi bagian titel yang diberikan kepada saya selama kurang lebih 12 tahun, yakni; masa SD, SMP, SMA. Selama itu pulalah saya fokus untuk belajar, belajar untuk memahami semua yang diberikan guru dalam proses pembelajaran di ruangan kelas atau diluar kelas. Memang bisa dibilang sempit makna kata siswa yang telah diberikan itu. Namun, kita menyandang status siswa itu merupakan sebuah proses untuk memanusiakan manusia (menambah daya guna) dalam tingkat awal.
                Setelah titel siswa itu dicabut atau dengan kata lain kita sudah mulai menginjak bangku perkuliahan maka sekarang waktunya untuk bertransformasi (mengubah) dalam rangka menyesuaikan diri untuk menghadapi tugas dan kewajiban yang baru.

                Maha merujuk pada kata “agung” atau “luhur” yang sejatinya diberikan pada Tuhan. Contohnya Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pemberi Rizki, dan sebagainya. Namun lingkungan sosial dan kemasyarakatan di Indonesia menempatkan kata maha sebagai kosakata depan disatukan dengan kata siswa. Dapat saya simpulkan bahwa masyarakat indonesia menaruh harapan besar terhadap “Mahasiswa”.
Konsekwensinya, tugas dan kewajiban selaku mahasiswa semakin bertambah dan semakin kompleks pula. Ada yang kita kenal dengan sebutan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang beresensikan penelitian dan pengabdian pada masyarakat, itulah yang menjadi garis besar visi kita selaku mahasiswa. Jika dahulu pada saat menjadi siswa kita hanya dituntut untuk memahami pelajaran saja maka setelah menjadi mahasiswa kita juga harus mengabdi pada masyarakat. Pengabdian dalam bentuk penelitian, pemikiran atau inovasi yang dapat meningkatkan efektifitas dan efesienitas kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Mengapa kita selaku mahasiswa harus mengabdi pada masyarakat?”  mungkin pertanyaan ini muncul dalam benak para mahasiswa. Semua yang terjadi dalam kehidupan sosial merupakan sistem yang setiap komponennya ikut mendukung agar sistem itu berjalan baik. Idealnya, mahasiswa harus berada di garda terdepan barisan suatu bangsa untuk mencapai visi bangsa indonesia yakni menjadikan bangsa indonesia sejahtera dan dihormati oleh bangsa lain.
Untuk mahasiswa yang menuntut ilmu dikampus negeri, biaya perkuliahan itu sebagian besar disubsidi pemerintah yang dananya berasal dari masyarakat. Dengan kata lain, pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sebagai bentuk timbal balik dalam kehidupan sosial.
Pemaparan diatas haruslah menjadi pengingat bagi seluruh mahasiswa, penulis bukan bermaksud mengurui namun inilah sistem sosial yang berlaku di Indonesia selaku negara berkembang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s